Fibroblast Growth Factor

Fibroblast Growth Factor (FGF) telah diketahui sebagai faktor tumbuh yang mampu meningkatkan kemampuan proliferasi sel (Wu et al., 2012). FGF merupakan faktor angiogenik yang dapat membentuk kompleks dengan heparin. Kompleks FGF-heparin merupakan struktur yang tahan terhadap protease dan panas. FGF ditemukan pada kelenjar hipofisis, otak, hipotelamus, mata, kartilago, tulang, corpus luteum, ginjal, plasenta, makrofag, kondrosarkoma, dan sel hepatoma (Frisca et al., 2009).
FGF terdiri dari 28 anggota, dimana 2 struktur primer asam amino FGF merupakan karakteristik utama dari FGF, yaitu FGF-1 (acidic FGF, aFGF) dan FGF-2 (basic FGF, bFGF). FGF-1 terdiri dari 140 asam amino, sedangkan FGF-2 terdiri dari 146 asam amino (Frisca et al., 2009). Reseptor untuk FGF ada pada permukaan sel FGFR-1 hingga FGFR-4 yang akan berikatan dengan reseptor intrinsic tyrosine kinase activity. Apabila reseptor FGF berikatan dengan enzim tyrosine kinase activity maka akan membentuk dimerisasi reseptor, dan reseptor tyrosine kinase menjadi aktif (Kumar et al., 2005; King, 2000).
Dalam hal ini, aFGF dan bFGF memiliki reseptor yang sama (FGFR-1 sampai FGFR-4), namun keduanya memiliki perbedaan tingkat afinitas pada reseptor. Afinitas aFGF dalam interaksi ikatannya dengan reseptor lebih kuat dibandingkan dengan bFGF. bFGF akan tetap terikat pada membran selama tidak ada sinyal peptida. Pada proses penyembuhan jaringan, enzim heparin sulfat akan mengaktivasi bFGF, kemudian akan membantu pembentukan pembuluh darah baru (Granato et al., 2004).